Senin, 23 November 2015

Mengapa Manusia Prasejarah Menggambar di Gua?

Gambar-gambar di situs gua prasejarah, punya beragam tafsir. Dari mulai karya seni, spiritual, hingga ekspresi identitas.
Oleh: EKO RUSDIANTO

Gambar cap tangan di dinding gua di kompleks prasejarah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Foto: Eko Rusdianto/Historia. Click to zoom
Gambar cap tangan di dinding gua di kompleks prasejarah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Foto: Eko Rusdianto/Historia.
DI salah satu situs kompleks prasejarah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terdapat tangga berbahan besi yang menghubungkannya menuju mulut gua. Namanya Leang Pettakere. Leang dalam bahasa setempat berarti gua. Di dinding dan langit-langit ada beberapa lukisan cap tangan dan gambar binatang.
Pettakere memiliki dua mulut gua. Udara dalam gua cukup baik, tidak pengap dan cukup sejuk. Inilah yang dikatakan peneliti gambar gua dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Pindi Setiawan, sebagai pemilihan lokasi tempat tinggal yang tepat. “Masyarakat pada masa lalu tidak memilih gua secara acak. Mereka melihat sirkulasi udara, atau pun faktor kenyamanan,” katanya.
Bagi Pindi, masyarakat penghuni gua yang diperkirakan menjejak Sulawesi sejak 40.000 tahun lalu sesuai hasil penanggalan, adalah masyarakat yang sama saja dengan manusia saat ini. Mereka hidup dengan relasi sosial, antara hubungan satu sama lain hingga spiritual. “Saya kira gambar-gambar yang tertera di langit-langit gua menunjukkan unsur spiritual,” katanya.
Di situs-situs gua prasejarah Maros dan Pangkep, ada tiga periode yang terlihat dalam penggambaran lukisan. Pertama gambar cap tangan biasa berwarna merah. Kedua gambar cap tangan merah dengan ujung-ujung jari yang runcing. Ketiga adalah gambar yang berwarna hitam.
Dalam skala waktu, gambar gua yang berwarna merah usianya lebih tua. Dibanding dengan gambar berwarna hitam yang diperkirakan dari masyarakat Austronesia sekitar 2500-4000 tahun lalu. Perbandingan ini diperoleh Pindi, melalui hasil analisis bersama kelompok peneliti gambar gua yang tersebar di 400 buah situs seluruh dunia.
Di Maros dan Pangkep, manusia penghuni gua awal adalah masyarakat pemburu tua. Penggunaan alat batu masih sedikit, mereka membidik mangsa buruan dengan menjepit di tebing-tebing karst, lalu menimpuknya. Gambar-gambar binatang yang diletakkan di dinding gua, adalah untuk makanan. Sementara yang berada di langit-langit gua untuk persembahan ataupun yang disembah. “Di Kalimantan ada gambar binatang Cicak. Di Afrika ada gambar Singa. Di Eropa ada gambar Bison, namun ketika dilakukan penggalian di situs ditemukan malah tulang binatang Beri-beri. Artinya, biantang-binatang yang memiliki posisi atas itu tidak untuk dikonsumsi,” kata Pindi.
Tak hanya itu, bagi Pindi, masyarakat gua menggambar dan memilih objek adalah tentang apa yang paling menggugah hati. Maka, untuk meletakkan gambar diperlukan tempat yang tepat. “Mereka menggambar cap tangan, karena mencapai tahap sosial tertentu. Kelahiran mereka melakukannya, ataupun mencapai tahap kemahiran memburu mereka mencap. Jadi ini, adalah perayaan dalam sebuah tingkatan. Seperti orang modern, dari lajang menjadi pasangan. Kan, kalau cerai tidak dirayakan,” katanya.
Literatur lain menuliskan, jika gambar-gambar dalam gua adalah sebuah karya seni. “Oh itu saya tidak setuju,” kata Pindi.
Menurut dia, perbincangan mengenai gambar gua (rock art) bermula ketika seni modern di Eropa mencapai tahap puncak. Beragam aliran mulai muncul, dari abstrak, realis, hingga surealis. Lalu beberapa orang Eropa memunculkan beberapa gambar dari gua. “Mereka (orang Eropa) memilih gambar-gambar yang bagus. Gambar yang kurang baik menurut selera seni pada masa itu tidak ditampilkan,” katanya.
Namun, pada awal 1980-an, setelah beberapa peneliti melakukan pengujian dan melakukan penanggalan pada gambar-gambar gua, Eropa kembali mendata ulang dan meluruskan beberapa kekeliruan mengenai gambar. Tapi apa yang terjadi, puluhan tahun pengaruh Eropa ke Indonesia, rupanya cukup kuat. “Ketika orang-orang Eropa mulai menata ulang pemikiran tentang gua, kita masih menggunakan teori lama. Jadi tak heran masih banyak orang yang mengatakan gambar gua itu adalah karya seni masyarakat prasejarah,” katanya.
Hal yang sama diungkapkan arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar, Iwan Sumantri. Menurutnya gambar-gambar dalam gua menunjukkan aktivitas masyarakat. “Gambar cap tangan memperlihatkan jika pada masa itu sudah ada tradisi ritual,” katanya.

Sumber Majalah Historia

Minggu, 14 Desember 2014

tugas uas ganjil Ilmu Sejarah FIB unpad 2014

Gemerlap kehidupan para nyonya sosialita di batavia Abad ke 17

          Gerja adalah tempat di mana ajang untuk pamer kekayaan bagi para perempuan elite yang berada di dalam tembok kota batavia abad ke 17. Salah satunya kehidupan perempuan indis di kota yang didirikan oleh Jan Pieterszoon Coen ini. Ketika itu Nicolas de Graff pertama kali menyaksikan kota Batavia pada akhir 1640. Dia merupakan ahli bedah kapal Voc,seniman lukis,dan penulis kisah perjalanan. Dalam perjalanan ke Batavia Graaf mengisahkan tentang perilaku kehidupan perempuan di Batavia yang kadang terkesan memalukan. Sudah menjadi tren pada saat itu di Batavia bahwa nyonya-nyonya elit punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk-Gereja salib yang bekas lahannya kini menjadi museum wayang.
           Mereka para nyonya-nyonya Belanda maupun mestizo atau peranakan, menjadikan gereja sebagai ajang pamer status sosial. Para nyonya-nyonya itu mengikuti kewarganegaraan suaminya yang asal Belanda. Jadi dalam tembok kota banyak dintemui perempuan asli Belanda,Indis,Kreol,dan Asia. Mereka bukanlah para istri yang terlibat langung dalam proses perdagangan atau perantara jual beli rumah atau pemberi pinjaman uang.
          Graaf mengisahkan perilaku para nyonya di Batavia yang memamerkan perhiasan mewah tatkala mereka pergi dan pulang dari Gereja. Segala hal telah dipersiapkan leboh glamor ketimbang waktu lain. Menurut graaf, selain berbusana dan bertakhtakan perhiasan mewah, graaf mencatat bahwa nyonya-nyonya Batavia datang ke gereja diiringi budak laki-laki dan perempuan mereka. Para budak membawa parasol bordir dengan motif daun-daun yang menyaungi majikan mereka selama perjalanan. 
           Menurut Taylor kebiasaan pamer ini tidak berasal dari kalangan ningrat di negeri mereka Belanda . Justru kebiasaan ini adalah pengaruh budaya asia dan budaya portugis. Graaf melukiskan dalam catatannya bahwa nyonya-nyonya itu ibarat putri raja yang manja dan selalu ingin di layani dan di penuhi segala keinginan dan kebutuhannya. Bahkan sedotan yang jatuh ke lantai, mereka memanggil para budak untuk mengambilnya. Demikian tulisannya. Malangnya, para budak kerap di dera sumpah serapah atau hukuman cambuk apabila mereka bekerja lamban atau tidak tak ememnuhi keinginan nyonya majikan. Di balik tembok Batavia terdapat kehidupan yang mewah, para nyonya sosialita zaman VOC tampak eksis bersosialisasi di gereja. Tapi sekarang Kota Batavia semakin berkembang dengan pesat dan membuat para nyonya sosialita zaman sekarang lebih eksis di Mall dan Salon...hahahah

Terimakasih atas perhatiannya, semoga bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Saya fahri sampai jumpa


Sumber. NASIONAL GEOGRAFIC INDONESIA