Minggu, 14 Desember 2014

tugas uas ganjil Ilmu Sejarah FIB unpad 2014

Gemerlap kehidupan para nyonya sosialita di batavia Abad ke 17

          Gerja adalah tempat di mana ajang untuk pamer kekayaan bagi para perempuan elite yang berada di dalam tembok kota batavia abad ke 17. Salah satunya kehidupan perempuan indis di kota yang didirikan oleh Jan Pieterszoon Coen ini. Ketika itu Nicolas de Graff pertama kali menyaksikan kota Batavia pada akhir 1640. Dia merupakan ahli bedah kapal Voc,seniman lukis,dan penulis kisah perjalanan. Dalam perjalanan ke Batavia Graaf mengisahkan tentang perilaku kehidupan perempuan di Batavia yang kadang terkesan memalukan. Sudah menjadi tren pada saat itu di Batavia bahwa nyonya-nyonya elit punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk-Gereja salib yang bekas lahannya kini menjadi museum wayang.
           Mereka para nyonya-nyonya Belanda maupun mestizo atau peranakan, menjadikan gereja sebagai ajang pamer status sosial. Para nyonya-nyonya itu mengikuti kewarganegaraan suaminya yang asal Belanda. Jadi dalam tembok kota banyak dintemui perempuan asli Belanda,Indis,Kreol,dan Asia. Mereka bukanlah para istri yang terlibat langung dalam proses perdagangan atau perantara jual beli rumah atau pemberi pinjaman uang.
          Graaf mengisahkan perilaku para nyonya di Batavia yang memamerkan perhiasan mewah tatkala mereka pergi dan pulang dari Gereja. Segala hal telah dipersiapkan leboh glamor ketimbang waktu lain. Menurut graaf, selain berbusana dan bertakhtakan perhiasan mewah, graaf mencatat bahwa nyonya-nyonya Batavia datang ke gereja diiringi budak laki-laki dan perempuan mereka. Para budak membawa parasol bordir dengan motif daun-daun yang menyaungi majikan mereka selama perjalanan. 
           Menurut Taylor kebiasaan pamer ini tidak berasal dari kalangan ningrat di negeri mereka Belanda . Justru kebiasaan ini adalah pengaruh budaya asia dan budaya portugis. Graaf melukiskan dalam catatannya bahwa nyonya-nyonya itu ibarat putri raja yang manja dan selalu ingin di layani dan di penuhi segala keinginan dan kebutuhannya. Bahkan sedotan yang jatuh ke lantai, mereka memanggil para budak untuk mengambilnya. Demikian tulisannya. Malangnya, para budak kerap di dera sumpah serapah atau hukuman cambuk apabila mereka bekerja lamban atau tidak tak ememnuhi keinginan nyonya majikan. Di balik tembok Batavia terdapat kehidupan yang mewah, para nyonya sosialita zaman VOC tampak eksis bersosialisasi di gereja. Tapi sekarang Kota Batavia semakin berkembang dengan pesat dan membuat para nyonya sosialita zaman sekarang lebih eksis di Mall dan Salon...hahahah

Terimakasih atas perhatiannya, semoga bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Saya fahri sampai jumpa


Sumber. NASIONAL GEOGRAFIC INDONESIA